Kamis, 17 April 2014

Ayah Juara Satu Seluruh Dunia


  • Kalau kalian bertanya, siapa orang yang didunia ini paling mengagumiku, jawabannya: ayahku.
  • Ia bahkan tak pernah fasih menyebut namaku, logat Palembang dengan bunyi diftong yang khas membuat ia tak pernah bisa dengan sempurna menyebut namaku, Muhammad Aldrin Julianto.
  • Memang bukan ia yang memberi nama itu, ia hanya berpesan pada Ibu agar menambahkan kata Muhammad didepan namaku. Harapannya, agar – aku – jagoan kecilnya mempunyai akhlaq semulia nabi, tak seperti masa mudanya.
  • Ia tak pernah menamatkan sekolahnya, mantan preman - itulah sebutan orang kampung terhadapnya, tapi ia sosok penyayang keluarga, jangankan memukul, tak pernah sekalipun aku mendengar ia berkata kasar kepada ibu dan anak-anaknya. Ia ayahku.
  • Ayahku, ia adalah orang selalu mengagumiku.
  • Dulu sepulang mengaji di mushola, aku bercerita kepadanya, bahwa aku telah bisa membaca alfatiha, aku praktekkan kepadanya, ia tersenyum – bangga.
  • Pada saat kenaikan kelas, aku cerita padanya, bahwa aku menjadi juara mengalahkan asti dan hendra, lagi – lagi ia tersenyum bahagia.
  • Lalu aku melihat temanku menggunakan sepeda, aku pulang dan merengek kepadanya, besoknya – aku telah mempunyai sepeda.
  • Ketika aku beranjak dewasa dan mulai mengenal cinta, ia menitipkan nasehat, aku lupa redaksinya, namun inti pesannya : ‘Jangan pernah menyakiti wanita, karena wanita adalah bidadari – bidadari surga’
  • Ayahku memang tak pandai berkata – kata. Baginya mungkin, satu ketauladanan jauh lebih baik dari ribuan nasehat bijak yang ada.
  • Ia begitu bangga ketika jagoan kecilnya merengkuh gelar sarjana, matanya berkaca – kaca.
  • Namun, lelaki gagah itu kini terbaring lemah – tak berdaya.
  • Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang maha cinta agar kelak nanti membangunkannya taman yang indah di surga, dan biarkan aku yang membayarnya.
  • Karena ia ayahku, ayah juara satu seluruh dunia.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar...