Minggu, 18 November 2012

100 Tahun Muhammadiyah, Semangat Islam yang berkemajuan

 100 tahun muhammadiyahSatu abad yang lalu, disuatu kampung kecil di Yogyakarta, Ahmad Dahlan dan kelompok pengajian kecilnya mendeklarasikan Muhammadiyah sebagai suatu wadah terorganisir untuk memudahkan dan mengembangkan bentuk - bentuk amal sosial serta pencerdasan terhadap masyarakat, Implmentasi awal dari program ini sangatlah sederhana, yaitu pengejawantahan dari surat Al Maun, Dahlan dan murid-muridnya memberi makan orang - orang yang kelaparan dan mendidik anak - anak yang putus sekolah, begitu sederhana.


Diawali dari tindakan sederhana diatas, ide besar Muahmmadiyah yaitu perbaikan sosial masyarakat baik dari ranah akidah, ekonomi, pendidikan dan berbagai macam aspek kehidupan lainnya terus menerus berkembang hingga sekarang tercatat sekitar 150 Perguruan tinggi, Ribuan sekolah, ratusan rumah sakit berhasil didirikan oleh Muhammadiyah.


Hari ini, 18 November 2012 menurut penanggalan masehi tepat 100 Tahun Muhammadiyah Resmi diproklamirkan secara resmi, Muhammadiyah mendeklarasikan sebagai gerakan tajdid dengan semangat pembaharuan, tentunya mendapat tantangan dari kaum agamawan mapan ketika saat itu, Muhammadiyah dicurigai, Langgarnya di tutup, dan dianggap menyimpang dari ajaran islam pada umumnya, namun Sunnatullah setiap pembaharu dimanapun dimuka bumi ini selalu dicaci, dihujat, dibenci pada awalnya namun diam - diam dipuji dan diikuti.Begitu pun dengan Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan yang ketika lahir dibenci namun pada akhirnya diikuti. 


Atas kiprah dan sepak terjang Muhammadiyah selama ini pantaslah kita sebut muhammadiyah sebagai gerakan islam yang berkemajuan, atau dalam bahasa Bung karno (salah satu anggota persarikatan Muhammadiyah) Gerakan islam progresif. Muhammadiyah lahir dengan merevolusi pemikiran - pemikiran islam yang taqlid yang sudah tidak sesuai dengan ajaran islam dengan pemikiran - pemikiran islam yang subtansional, semisal contoh dulu khotbah jumat dibacakan dengan bahasa Arab, karena Nabi dan para sahabat menggunakan bahasa arab ketika berkhotbah, Namun Ahmad Dahlan mengatakan tujuan khotbah untuk memberikan pencerdasan terhadap masyarakat, bagaimana masyarakat mau cerdas jika ia diajari dengan bahasa yang tidak ia mengerti, lalu kyai Dahlan berfatwa tidak mengapa Khotbah dengan bahasa selain bahasa Arab yang penting dimengerti oleh jemaah masjid, awalnya tindakan ini dianggap sesat namun sekarang diikuti. Contoh lain tentang pendidikan pesantren awalnya pesantren hanya mengajari ilmu - ilmu yang berkaitan dengan ibadah vertikal dengan Tuhan, Fiqih, dll dan mngesampingkan ilmu - ilmu lain yang dianggap tidak islami, namun Muhammadiyah membuat gebrakan dengan mengadopsi sistem pengajaran barat, Semua ilmu diprioritaskan baik agama, science, filsafat dan lainnya. 


Maka pantaslah bahwa dalam 100 tahun Muhammadiyah berkiprah, dianggap sebagai gerakan islam yang progresif, gerakan islam yang berkemajuan. Untuk itu kita harapkan bersama Muhammadiyah tetap menjaga semangat islam yang berkemajuan itu, sebagaimana tertuanga dalam pernyataan pemikiran Muhammadiyah pada muktamar Tahun 2010 "Islam berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia, Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam yang menggelorakan misi anti perang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, antiketerbelakangan dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan di atas muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran yang menghancurkan kehidupan. Islam yang secara positif melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan suku, bangsa, ras, golongan dan kebudayaan umat manusia di muka bumi”



100 Tahun Muhammadiyah selamat berulang tahun!!!

Kamis, 15 November 2012

Let's Hijrah

       Setiap momen pergantian tahun seharusnya menjadi waktu yang digunakan sebagai waktu untuk
evaluasi diri, menata serta merencanakan target - target masa mendatang. Nah kalau didalam budaya Indonesia akhir tahun (masehi) sering digunakan untuk berpesta dan melupakan esensi untuk mengevaluasi diri, maka momen Tahun baru Hijriah dengan berbagai latar belakang sejarah dan berbagai makna yang terkandung didalamnya dapat kita gunakan sebagai momen yang tepat untuk mengevaluasi diri.

       Hijrah berasal dari kata "Hajaro" yang berarti "Meninggalkan sesatu", tentunya yang ditinggalkan ini dapat berupa tempat ataupun kondisi dengan tujuan menggantikan tempat atau  kondisi yang lebih baik. nabi Muhammad Hijrah dari mekah menuju madinah dengan tujuan untuk pindah dari kondisi yang kurang baik untuk perkembangan dakwahya menuju tempat yang lebih baik untuk perkembangan dakwahnya.

       Dalam konteks masa kini mari kita maknai peristiwa hijrah ini baik Hijrah sebagai momen pergantian tahun maupun sebagai momen hari bersejarah dalam perkembangan islam dan dunia. Hijrah sebagai momen pergantian tahun kita maknai dengan mengevaluasi diri / ber-muhasabbah terhadap apa saja yang telah kita lakukan selama satu tahun yang lalu, apa saja perbaikan - perbaikan yang telah kita lakukan, apa saja terget - target yang kita capai pun  juga seberapa banyak kesalahan yang kita lakukan, seberapa banyak orang yang tersakiti oleh kita, seberapa sering kita menyia-nyiakan waktu. Selain evaluasi Momen tahun baru ini juga kita mulai dengan target - target apa yang harus kita capai, kita tulis draft mimpi - mimpi kita serta rencana untuk mencapainya. sehingga sejalan dengan hadist nabi "orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung, yang hari ini sama seperti kemarin maka ia merugi, dan yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia celaka".

      Lalu momen hijrah sebagai salah satu hari bersejarah dalam perkembangan peradaban Islam kita maknai dengan mengambil spirit serta makna kebaikan yang terkandung didalamnya, kita ingat hijrah merupakan hari baru bagi sejarah islam serta dunia, "from darkness to brightnes". Kalau di Mekkah fokus dakwah nabi terletak pada perbaikan nilai-nilai ketuhanan maka pada periode setelah hijrah di Madinah, fokus dakwah nabi pada nilai - nilai tata sosial dalam hubungan masyarakat.

      Sekarang, 1 Muharam 1434 hijriah, hampir 15 abad setelah peristiwa Hijrah, semoga spirit perbaikan dalam peristiwa tersebut dapat selalu mengingatkan kita bahwa perbaikan dari waktu ke waktu merupakan sesuatu ygn harus tetap kita lestarikan.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diamnya yang tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ia akan keruh dan menggenang
Singa jika tak meninggalkan sarangnya tak akan mendapat mangsa
Anak panah jika tidak dilepaskan dari busurnya tak akan kena sasarannya

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus ia diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandangnya
Biji emas bagaikan tanah biasa tak berguna sebelum digali dari tambangnya
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika ia masih dalam hutan tak diolah


Hijrah

Hijrah


Hijrah

Let's Hijrah!!!