Selasa, 05 April 2011

Belajar Dari Serial "Lorong Waktu"

Akhir tahun 90an, tepatnya disekitaran tahun 1999 masyarakat Indonesia diakrabkan dengan salah satu serial yang bertemakan tentang kehidupan berjudul Lorong Waktu, serial yang disutradarai oleh Deddy Mizwar ini bukan hanya memberi terobsan baru di dunia televisi Indonesia yang ketika itu marak diisi oleh sinetron-sinetron yang hanya memikirkan ratting siarannya, tapi serial ini mampu mengemas tuntunan di balik tontonan yang tidak menggurui.

Serial ini bertemakan suasana suatu perumahan dan kehidupan di masjid utama perumahan tersebut, dengan tokoh Haji Husin (Deddy Mizwar) sebagai Ketua Masjid lalu Uztads Adin (Dicki Candra) sebagai salah satu guru ngaji dan pengurus di masjid tersebut, serta tokoh zidan (Jourast Jordy) yang mewakili anak zaman sekarang.





 

1. Islam dan teknologi

Mungkin, disini tidak akan mengupas ataupun meresensi serial itu kembali, tapi mencoba mengambil pelajaran dari apa yang ditawarkan oleh serial tersebut, suatu gagasan teknologi yang mampu menerobos dimensi ruang dan waktu yang diciptakan oleh uztads memang menarik untuk dicermati, sudah lama dunia islam tifdak melahirkan intelektual kaliber ibnu rusyd dan al ghazali, serial ini mencoba menampilkan wibawa islam senagia ajaran yang universal yang begitu menghargai ilmu pengetahuan, sosok ulama yang dibutuhkan dunia ini adalah seorang intelektual yang all around yang mampu mengembangkan gagasan - gagasan inovatif yang bermoral, seperti yang diungkapkan oleh Dr. Hasan Al-Turabi, memberikan definisi yang menarik tentang ulama, dalam artikelnya yang dimuat dalam Voice of Resurgent Islam(1983) pada halaman 245, ia menulis: "apa yanng saya maksudkan dengan ulama? secara historis, perkataan ini bermakna mereka yang punya kepakaran dalam hal ilmu agama. Akan tetapi, ilmu ('ilm) tidak hanya bermakna itu. Ia bermakna siapa pun yang mengetahui secara mendalam tentang sesuatu yang dikaitkan degan Tuhan. Karena semua ilmu  adalah bercorak ilahiah dan agamis. seorang ahli kimia, insinyur, ekonom ataupun yuris, semuanya ulama. Maka ulama dalam pengertian yang luas ini, apakah mereka ilmuan sosial, ilmuan sains atau filosof haruslah mencerahkan masyarakat."

2. Islam dan pendidikan

Dalam perjalanan sejarah, perluasan - perluasan wilayah yang dilakukan oleh islam memberikan suatu kenyataan unik bahwa tawaran islam memang layak untuk dijadikan peradaban alternatif zaman ini, yang dilakukan oleh penakluk islam ketika menaklukan suatu kota yang pertama kali dibangun ialah sekolah dan masjid, sekolah merepresentasikan sebagai pembebas manusia dari kebodohan dan masjid sebagai sarana pembebasan manusia dari kehampaan/kekosongan hati dari zat pemilik hati. di serial ini pun kita disajikan keduanya, masjid yang juga menyediakan perpustakaan yang besar serta pusat pendidikan dengan TK/TPA nya.

3. Islam dan Kehidupan

Realitas sosial merupakan hal yang ingin diperbaiki oleh islam, di awal kemunculannya islam memang diturunkan untuk menggantikan kehidupan sosial yang jauh dari keadilan, dimana perbudakan dan kemiskinan meraja rela, islam pun tampil sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut, Lorong waktu mengambarkan peran islam bukan hanya terletak dibidang peribadatan yang kaku, tapi masjid selain dijadikan tempat pendidikan juga diberi ruang untuk membantu masyarakat dibidang ekonomi dengan koperasi dan tempat penjualan barabg - barang pokok masyarakat.

semoga kehidupan masyarakat yang digambarkan didalam serial lorong waktu ini akan menjadi kehidupan yang sebenarnya bukan hanya sebagai suata angan negeri utopis yang terdapat dalam dongeng - dongeng sejarah, kerja keras serta jihad intelektual menjadi modal utama untuk kerja besar ke arah ini, sebuah pelajaran dari serial lorong waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar...