Minggu, 13 Maret 2011

Krisis Kepemimpinan dan Pengaruhnya dalam Dunia Pendidikan

Essay ini diikutkan pada lomba Essay Enginering Fair FT Unsri, Maret 2011


Melihat Indonesia secara global tentunya akan menghasilkan kesimpulan bahwa Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi baik secara geografis maupun sumber daya alam sebagai negara dengan tingkat kemakmuran yang tinggi. Dengan letak geografis yang terpisahkan oleh berbagai pulau, rakyat indoneisa tetap memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, selain itu dengan sumber daya alam yang melimpah tidak sulit bagi indonesia untuk menjadi kiblat utama gerbong kemajuan dunia. Untuk itu dibutuhkan sosok pemersatu dalam hal ini tentunya kepimpinan nasional yang kuat untuk memperdayakan semua potensi tersebut, Sebuah kepemimpinan yang mampu meneladani dan yang terpenting mampu mengkolaborasi antara sumber daya alam yang melimpah serta sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengolah kekayaan itu. Sehingga kesejahteraan yang merata menjadi produk utama simbiosis mutualisme ini. Sumber daya manusia yang berkualitas sebagai pra syarat kemajuan dapat dicipta dengan suatu sistem pendidikan yang bermutu karena pendidikan merupakan syarat mutlak untuk melakukan kolabarasi tersebut.

Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa, karena dengan pendidikan yang baik tentunya akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula karena pendidikan akan dapat membentuk watak moral suatu bangsa dengan demikian mutlak dibutuhkan sistem pendidikan yang mampu menciptakan sumber daya manusia berkualitas yaitu manusia dengan wawasan untuk selau mencipta bukan untuk sekedar memakai, sumber daya manusia yang selalu berusaha untuk memproduksi bukan sumber daya manusai yang hanya mampu mengkonsumsi dan yang terpenting pendidikan yang menciptakan sumber daya manusia bermoral yang mampu menjadi filter untuk menyaring kemajuan pendidikan serta teknologi, yang bermanfaat secara umum dan mampu dinikmati oleh setiap lapisan mayarakat. Jadi secara tidak langsung negeri ini, harus mampu menciptakan suatu sistem pendidikan yang mampu untuk mengubah karakter dan paradigma pemikiran masyarakat indonesia. Untuk melakukan hal itu semua, tentu bukan suatu pekerjaan individu namun merupakan tugas rumah bersama yang tentunya memerlukan suatu komando kepemimpinan nasional yang kuat yang mampu mendengar setiap aspirasi dan mampu menerjemahkannya kembali ke dalam bentuk peraturan – peraturan yang pro terhadap pendidikan kerakyatan. Sesuai dengan cita-cita bangsa ini yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Pendidikan yang bermutu memang bukan suatu barang langka namun juga bukan berarti mudah untuk didapat atau diterapkan, kembali lagi usaha bersama yang kolektif yang dimotori oleh pemimpin yang royal terhadap dunia pendidikan adalah yang dibutuhkan negeri ini, memang seorang pemimpin bukanlah satu-satunya kambing hitam yang bertanggung jawab akan kegagalan sistem pendidikan, namun lebih daripada itu pemimpin adalah orang yang dapat menajdi trigger untuk membalikkan kegagalan menjadi suatu keberhasilan untuk itu mutlak dibutuhkan kepemimpinan nasional yang ber visi untuk mewujudkan pendidikan bermutu yang merupakan cita cita besar negeri ni. Pendidikan bermutu yang dimaksud adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi manusia sebagai mahluk kreatif dan mahluk sosial yang berwawasan global, artinya pendidikan ini kelak nantinya mampu menciptakan kemajuan material sebagai implkasi manusia sebagai mahluk kreatif dengan berbagai kreasi dan inovasinya dalam mengolah sumber daya alam secara tepat dan berguna dan kemajuan moral sebagai fitrah manusia sebagai mahluk sosial yang berwawasan global yang mampu mengiringi dan mengawal kemajuan dibidang materil sehingga tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara kebablasan dan rakus. Pendidikan yang bermutu ini harus dapat menghasilkan sumber daya manusia dengan dua potensi tersebut, karena dua potensi ini adalah sintesis yang dapat mengarahkan suatu bangsa kepada kemajuan yang sebenarnya.

Krisis kepemimpinan menjadi salah satu masalah utama yang dapat mengahalangi terciptanya suatu sistem pendidikan yang bermutu itu, Karena memang, sekali lagi dibutuhkan usaha yang kolektif untuk suatu kerja yang besar ini dan kembali lagi masalah kepemimpinan akan terus menjadi sorotan utama yang akan dimintai pertanggung jawaban pertama kali atas kemerosotan ataupun kemunduran dunia pendidikan yang berefek terhentinya kemajuan teknologi yang dibangun, krisis kepemimpinan ini akan berefek domino dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam segi poitik karena tentunya berbagai kepentingan politik akan ikut berperan dan menentukan arah kebijakan yang di ambil, dengan ketidak stabilan dalam sistem politik tentunya sulit menciptakan pendidikan yang bermutu ini, dari segi ekonomi akan membuat support materil sebagai salah satu komponen penunjang dunia pendidikan yang berimbas dengan mahalnya biaya pendidikan. Disadari atau tidak pendidikan bermutu sedikit banyak memerlukan dana untuk melaksanakan berbagai program menuju pendidikan yang berkualitas itu, dari segi sosial tentunya masalah mahalnya biaya pendidikan ini akan menyebabkan peserta pendidikan akan berubah orientasinya menjadi lebih pragmatis yang tentunya bukan menjadi harapan dari tujuan pendidikan yang bermutu yang mengandung dua komponen perbaikan sumber daya manusia seperti yang disinggung di atas. Kepimpinan nasional akan tetap menjadi tumpuan utama untuk memajukan dunia pendidikan di negeri ini sehingga semestinya sekarang pemerintah baik pusat maupun daerah harus mulai lebih ekstra untuk kembali merumuskan sistem pendidikan yang ada sekarang. Menurut REPUBLIKA.CO.ID “Delapan puluh persen menyatakan karena kesulitan ekonomi baik yang tidak punya dana untuk beli pakaian seragam, buku, transport atau kesulitan ekonomi yang mengharuskan mereka harus bekerja sehingga tidak mungkin bersekolah,” tutur Wamendiknas di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Rabu (21/12). Dari data tersebut dapat dianalisis bahwa kepimpinan naisonal belum mampu menciptakan sistem pendidikan kerakyatan yang bermutu tentunya karena masih banyak penduduk di negara ini yang tidak dapat menikmati fasilitas pendidikan sebagai mana mestinta ini artinya tujuan besar pembukaan Undang – undang Dasar negara ini masih sebatas impian. Belum lagi masalah kuantitas peserta pendidikan atau masyrakat yang mampu untuk mengeyam pendidikan masalah kualitas pendidikan pun masih menjadi kendala di negeri ini, karena ternyata merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) per 22 April 2010 mencatat ada sekira 1,1 juta orang yang menjadi pengangguran baru di Indonesia. Jumlah tersebut merupakan jumlah anak yang tamat sekolah (perguruan tinggi) namun belum bisa diterima bekerja. Ini artinya belum lagi kita mencoba memperbaiki kuantitas peserta pendidikan kualitas pendidikan pun menjadi maslah pelik dalam system pendidikan negeri ini. Pendidikan bermutu yang menjadi inti dari gagasan tulisan ini berupa pendidikan yang mampu mengedepankan output dari hasil pendidikan berupa sumber daya manusia yang kreatif dan bermoral sehingga dalam pelaksanaan pendidikan tidak lagi kita temukan kecurangan dalam usaha kelulusan siswa, kekerasan dalam proses belajar mengajar yang disadari atau tidak akan membentuk karakter peserta didik tersebut, dimana peserta didik ini nantinya akan menjadi pemimpin – pemimpin di negeri ini. Indonesia tentunya memerlukan suatu bentuk kepemimpinan nasional yang kuat untuk mengatasi masalah ini semua. Perbaikan system pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai ke tingkat perguruan tinggi merupakan kerja besar yang harus segera dikerjakan kiranya Indonesia mampu menjadi lebih baik.

Sekali lagi perbaikan sistem pendidikan nasional sudah menjadi suatu keharusan yang tidak dapat kita tawar – tawar lagi yang tentunya harus dikomandoi oleh pemimpin bangsa yang mau memimpin secara bijak, yang mampu memberi teladan bukan sekedar himbauan karena memang kemajuan dunia pendidikan dalam perspektif kemajuan materil akan berimbas kepada kemajuan teknologi dan kemajuan teknologi ini kalau tidak dibarengi dengan kemajuan moral akan membawa kepada kemunduran namun lebih dari itu ketidakberhasilan dalam menciptakan seistem pendidikan yang bermutu dengan output berupa kemajuan materil atau sumber daya manusia yang kreatif dan kemajuan moral atau sumber daya manusia yang berwawasan global akan membawa akibat yang lebih memprihatinkan lagi. Akhirnya, krisis kepemimpinan ini jangan sampai menjadi masalah yang berlarut larut sehingga perkembangan dunia pendidikan tidak mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam upaya pengembangan teknologi yang bertujuan untuk kesejahteraan sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar...