Rabu, 07 Desember 2011

Mengenal Sir Muahmmad Iqbal

      Dari penelitian terakhir terungkap bahwa Muhammad Iqbal lahir pada 9 nopember 1877. Bukan 22 Februari 1873 seperti yang kita kenal selama ini. ia dilahirkan dari keturunan Brahmin yang hidup di lembah Kashmir, meninggal dunia pada 21 April 1938. Jadi bila orang ingin memeperingati hari kelahiran Iqbal, haruslah disesuaikan dengan hasil penelitian yang baru.

     Apabila menggunakan ukuran sekarang, wafat dalam usia 61 tahun belumlah terlalu tua berkat kemajuan gizi dan ilmu esehatan modern. Tapi bagi Iqbal tentunya yang penting bukanlah panjang pendeknya usia seseorang. Tetapi arah dan kualitas hidup itu sendiri. Sebuah kehidupan yag berlarutlarut tanpa arah dan tujuan yang jelas, dalam perspektif filsafat Iqbal, justru merupakan beban sejarah ketimbang kebanggaan . Dalam kaitan ini kita pun teringat ungkapan dalam sajak Chairil Anwar: "Sekali berarti setelah itu mati"

     Iqbal, penyair dan filsuf timur, telah mengukir hidupnya sedemikian rupa hingga akan dikenang umat mnusiaratusan tahun yang akan datang, sebab seluruh karyanya dalam bentuk puisi dan prosa dalam bahasa Urdu, Parsi, dan Inggris telah terdokumentasi dengan baik. Intelektualisme Iqbal dapat ditinjau dari pelbagai jurusan: puisi, filsafat, hukum , pemikiran islam, dan kebudayaan dalam makna yang sempit.

     Dalam semua wilayah itu, Iqba mengerahkan hampir seluruh energinya dengan tujuan tunggal: reorientasi nilainilai kemanusiaan, Timur dan Baratm dengan landasan tauhid yang teramat kokoh. Peradaban Barat, sekalipun dalam beberapa segi dikaguminya, dalam perspektif moral transendental sedah sangat jauh meluncur ke jurang berbahaya. Sedangkan Timur yang terpasung dalam spiritualisme, telah lama pula dalam keadaan steril tanpa dinamika. lalu untuk membangun sebuah peradaban baru yang anggun dan segar diusulkannya agar Barat dan Timur dipertautkan dengan mengawinkan penalaran [ziraki] an cinta ['isyq].

Bagi Barat penalaran [akal] merupakan instrumen kehidupan;
Bagi Timur rahasia alam semesta terletak dalam cinta['isyq].
Dengan bantuan cinta akal berkenalan dengan Realitas;
Sedangkan untuk penguatan fondasinya, cinta menerima kekuatan dari akal.
Bila cinta dan penalaran saling berpelukan,
Akan terciptalah sebuah dunia baru;
[Oleh sebab itu], Bangkitlah dan bangunlah sebuah dunia baru itu.
Dengan mengawinkan cinta dan penalaran.

     Obsesi Iqbal adalah cepat terwujudnya saling pengertian spiritual antara barat adn Timur. Bertolak dari doktrin Al Quran tentang persaudaraan universal umat manusia, penyair ini pada masa hidupnya amat gelisah menyaksikan konflik berkepanjangan antara Barat dan Timur. "Keperluan yang mendesak sekarang," tulis William O.Dauglas dari Mahkamah Agung Amerika Serikat beberapa dekade yang lalu, "ialah terciptanya saling pengertian antara Timur dan Barat. Keperluan akan saling pengertian ini adalah untuk level intelektual tertinggi, sebab dengan cara begitu,peradaban-peradaban yang berbeda masing-masing berhak atas kebesarannya sendiri --boleh jadi akan saling menegna dan memahami antara satu dengan lainya. Pengenalan akan membuahkan toleransi, saling ,menghormati, dan saling mengagumi."




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar...