Rabu, 04 Januari 2012

Kutipan Favorit dari Novel Bumi Manusia

      Pada tulisan sebelumnya, review novel bumi manusia, telah saya paparkan sinopsis singkat gambaran betapa menariknya novel yang sempat dicekal oleh pemerintah orde baru ini, selain alur cerita yang begitu kuat, pesan kemanusian yang terkandung didalamnya tidak dapat dikatakan sedikit. Si Penulis, Pramodya Ananta Toer dengan sangat baik menulis sejarah Indonesia dari sudut yang berbeda dan menakjubkan.

     
Dan ada beberapa catatan yang begitu menginspirasi dengan pesan moral yang tinggi,

 "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri " (Mama/Nyai Ontosoroh, hal 39)

"Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. (Jean Marais, hal 52)

"Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. (Jean Marais, 55)

"Tak ada cinta muncul mendadak, karena dia anak kebudayaan, bukan batu dari langit. (Jean Marais, 55) 

"Melawan, Minke, dengan segala kemampuan dan ketakmampuan. (Jean Marais, 60) 

"Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima. (Mama, 73) 

"Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. (Mama, 119) 

"Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini. (Mama, 120) 

"Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya . (Minke, 135) 

"Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. (Bunda, 138) 

"Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati. (Jean Marais, 203) 

"Suatu bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa-raga dan harta benda untuk segumpal pengertian abstrak bernama kehormatan. (Miriam de la Croix, 212) 

"Melawan pada yang berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan. (Miriam de la Croix, 213) 

"Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan. (Magda Peters, 233) 

"Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai. (Magda Peters, 233) 

"Tak pernah ada perang untuk perang. Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang ini...ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati, hidup atau kalah-menang. (Jean Marais, 250) 

"Cinta tak lain dari sumber kekuatan tanpa bendungan bisa mengubah, menghancurkan atau meniadakan, membangun atau menggalang. (Dr. Martinet, 279)

 "Kita telah melawan nak, Sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya.(Mama ,...)

1 komentar:

  1. terima kasih atas artikelnya sangat menarik & bermanfaat
    salam kenal & sukses selalu

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar...